Ada sejumlah hal yang bisa menyebabkan persalinan harus dilakukan sebelum waktunya. Padahal, memiliki bayi prematur sama artinya dengan menghadapi banyak risiko. Mulai infeksi, kebutaan, hingga meninggal dunia. Lalu, bagaimana cara merawat bayi prematur usai dilahirkan?
Orangtua manapun pasti menginginkan persalinan yang lancar dan tak bermasalah. Namun, saat terjadi musibah atau kondisi tertentu yang dialami sang ibu, persalinan kurang bulan, atau pre term, menjadi satu-satunya pilihan yang tak bisa dicegah.
Misalnya, ibu hamil yang terjatuh di kamar mandi hingga ketubannya pecah, atau ibu hamil dengan tekanan darah tinggi hingga mengalami kejang.
“Terkadang kondisi spontan maupun adanya indikasi tertentu menyebabkan kelahiran prematur tak bisa dihindari. Lebih baik dilakukan persalinan pre term, daripada nyawa bayi dan sang ibu melayang!” papar dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A (K), konsultan perinatologi, Divisi Perinatologi FKUI/RSCM dan Brawijaya Women and Cildren Hospital, Jakarta.
Ditegaskan pula oleh dr. Rini Hersetyati, Sp.M, optamologis atau ahli retina dari Klinik Mata Nusantara, Jakarta, bayi prematur terutama dengan berat dibawah 1500 gr dan usia kandungan kurang dari 32 minggu, berisiko mengalami kebutaan yang sering disebut retinopathy of prematurity (ROP).
Kasus inilah yang sempat dialami si kembar Jared-Jayden, yang sempat ramai diberitakan beberapa waktu lalu. Tak hanya kebutaan saja, risiko lain seperti infeksi dan kematian akibat beberapa organ yang belum matang, turut mengancam buah hati yang lahir sebelum waktunya.
Untuk meminimalisasi risiko ini, ada baiknya orangtua dan calon orangtua mengetahui bagaimana cara memperlakukan atau jenis perawatan yang dilakukan untuk bayi prematur.
Makin Muda Makin Berisiko
Rinawati menjelaskan, tak semua bayi prematur berisiko mengalami kebutaan maupun kegagalan organ. Untuk bayi usia kehamilan 35 sampai 36 minggu, dapat dikatakan memiliki karakter mirip dengan bayi cukup bulan. Termasuk kemampuan untuk bertahan hidup dan kematangan organnya.
Sedangkan bayi yang lahir di bawah 35 minggu hingga 28 minggu memiliki kematangan organ yang lebih rendah, dan biasanya juga berat badannya di bawah 2000 gram. Begitu pula bayi di bawah 28 minggu, sehingga dapat dikatakan, semakin cepat usia lahirnya semakin rendah kemampuan survival bayi.
Kondisi ketidakmatangan organ ini tentu saja membawa dampak besar bagi kualitas hidup bayi. Ancaman hipotermia, asfiksia (gagal adaptasi barnafas spontan), dan apnu prematuritas (lupa bernafas), akibat kurang matangnya otak merupakan ancaman paling besar yang dihadapi bayi prematur. Ancaman ini bahkan bisa merenggut nyawa bayi.
Selain itu, risiko hipoglikemi akibat kurang matangnya organ usus juga bisa mengakibatkan bayi kekurangan energi untuk menyempurnakan tubuh dan mengejar ketertinggalan pertumbuhannya.







0 komentar:
Posting Komentar